Selasa, 15 Februari 2011

Gangguan Genetik Sindrom Down


Sindrom Down adalah sebuah gangguan genetik yang disebabkan oleh trisomi kromosom 21. Gangguan ini adalah gangguan kromosom tersering yang dijumpai dalam kelahiran hidup, yaitu 1 dari 800 kelahiran hidup. Pada 95% kasus, sindrom Down disebabkan oleh nondisjungsi kromosom ibu nomor 21 selama meiosis. Insidens sindrom Down yang berhubungan dengan nondisjungsi meningkat seiring dengan usia ibu. Sindrom Down terjadi pada 1 dari 1350 bayi yang lahir dari ibu berusia kurang dari 24 tahun, dan 1 dari 65 bayi yang lahir dari ibu berusia 41 sampai 45 tahun. Kurang dari 5% kasus sindrom Down yang dapat dilacak berasal dari kromosom ekstra ayah. Penyebab sindrom Down ketiga yang tidak lazim adalah translokasi total atau sebagian dari salah satu duplikat kromosom 21 normal menjadi kromosom yang berbeda, biasanya menjadi kromosom 13, 14, 15, 18, atau 22, namun kromosom lain juga dapat menjadi target. Anak yang mengidap sindrom Down memiliki tingkat retardasi mental yang bervariasi, sering dapat diintervensi secara positif dengan program intervensi anak secara dini.
Gambaran Klinis
• Tingkat retardasi mental bervariasi.
• Mata Sipit ke arah atas, tangan pendek, hanya memiliki satu lipatan pada telapak tangan (simian crease), dan telinga letak rendah.
• Tubuh pendek.
• Lidah menonjol.
Perangkat Diagnostik
• Uji genetik pranatal (amniosentesis atau pengambilan sampel vilus korion) dapat mengidentifikasi janin pengidap sindrom Down.
• Pemeriksaan darah ibu dapat mengidentifikasi janin yang berisiko tinggi mengidap sindrom Down. Dalam sebuah uji yang disebut uji quad, empat bahan maternal yang bersirkulasi ditubuh diukur se- lama trimester dua kehamilan. Setelah didapatkan hasilnya, kasus sindrom Down pada ibu adalah 75 % pada ibu berusia kurang dari 35 tahun dan 85%-90% pada ibu berusia 35 tahun atau lebih. Bahan maternal ini meliputi:
Estriol tak-terkonjugasi (uE3).
uE3 diproduksi oleh plasenta. Kadarnya menurun sekitar 25% dalam serum ibu yang kehamilannya disertai sindrom Down dibandingkan kehamilan tanpa sidrom Down.
• Alfafetoprotein (AFP). AFP adalah protein serum utama dari janin. AFP berpindah dari sirkulasi janin ke sirkulasi maternal. Kadar AFP menurun pada serum maternal ibu yang mengandung janin sindrom Down. Kadar AFP juga digunakan untuk mendeteksi defek tuba neural janin dan anensefali, dan kadar AFP meningkat pada kedua defek ini.
Human chorionic gonadotropin (hCG). hCG diproduksi selama ke-hamilan, awalnya oleh trofoblas dan kemudian oleh plasenta. Kadarnya dalam serum maternal lebih tinggi pada kehamilan dengan sindrom Down dibandingkan tanpa sindrom Down.
Inhibin A.
Inhibin A adalah suatu glikoprotein yang dibentuk selama kehamilan terutama oleh plasenta. Inhibin A meningkat pada ibu yang mengandung janin sindrom Down.
• Skrining ultrasound pranatal menunjukkan adanya tanda-tanda fisik janin sindrom Down, terutama kelainan dalam ketebalan nuchal (bagian belakang leher).
• Karyotyping genetik setelah lahir dapat memastikan diagnosis klinis sindrom Down.
Komplikasi
• Defek kongenital jantung atau organ lain sering terjadi berkaitan dengan sindrom Down.
• Risiko leukemia di masa kanak-kanak dapat meningkat pada anak pengidap sindrom Down. Hal ini berkaitan dengan pengamatan bahwa sebagian bentuk leukemia dapat berhubungan dengan defek pada kromosom 21. Pengidap sindrom Down juga biasanya menderita penyakit Alzheimer selama empat atau lima dekade kehidupannya. Hal ini berkaitan dengan hasil pengamatan bahwa penyakit Alzheimer dapat muncul sebagian karena defek pada kromosom 21.
• Sekitar 20% janin sindrom Down mengalami abortus spontan ‘antara masa kehamilan 10 dan 16 minggu. Banyak janin tidak berimplantasi pada endometrium atau ibu mengalami keguguran sebelum masa kehamilan 6 sampai 8 minggu.
Penatalaksanaan
• Mungkin diperlukan pembedahan apabila terdapat defek kongenital lain.
• Program intervensi dini dapat membatasi derajat retardasi mental.
Pustaka
Buku Saku Patofisiologi Corwin Oleh Elizabeth J. Corwin
Seorang Anak Down Sindrome


Penyebab Terjadinya Autisme

Penyebab terjadinya belum diketahui secara pasti, hanya diperkirakan mungkin adanya kelainan dari sistem saraf (neurologi) dalam berbagai derajat beratnya ringan penyakit.

Penelitian tentang penyebab dan pengobatan autisme juga masih pada taraf awal, meskipun di negara maju yang sudah sejak lama mengenal dan mengelola autisme. Penyebab yang tepat masih dalam taraf perdebatan di antara para ahli, meskipun pernah di era 50-an sampai 60-an, dikatakan penyebabnya adalah akibat dari pengaruh perlakuan orang tua di masa kanak-kanak. Pada mulanya dulu di tahun 40-an dr. Leo Kanner pernah melaporkan temuannya bahwa orang tua dari anak yang autisme, ternyata kurang memiliki rasa kehangatan dalam membesarkan anaknya. Akibat dan teori penyebab ini, banyak orang tua malah menyesali terjadinya autisme pada anaknya dan berusaha melakukan konsultasi psycho terapi secara intensif dengan biaya yang sangat mahal sekalipun, karena merasa dihina oleh teori tersebut. Sampai sekarang belum ada data yang bisa dipertanggungjawabkan untuk membuktikan kebenaran dari teori penyebab autisme adalah karena perilaku orang tua. Dengan demikian, para profesional hendaknya jangan terlalu mudah menyalahkan perilaku orang tua sebagai penyebab autisme anaknya, dan menganjurkan satu jenis obat tertentu untuk mengatasi anak autisme. Kedua pendapat dan cara belakangan ini sangat menghambat usaha dalam meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap autisme.
Pendapat yang sudah menjadi konsensus bersama para ahli belakangan ini mengakui bahwa autisme diakibatkan terjadi kelainan fungsi luhur di daerah otak.
Kelainan fungsi ini bisa disebabkan berbagai macam trauma seperti:
• Sewaktu bayi dalam kandungan, misalnya karena keadaan keracunan kehamilan (toxemia gravidarum), infeksi virus rubella, virus cytomegalo, dan lain-lain.
• Kejadian segera setelah lahir (perinatal)
seperti kekurangan oksigen (anoksia).
• Keadaan selama kehamilan seperti pem-bentukan otak yang kecil, misalnya vermis otak kecil yang lebih kecil (mikrosepali) atau terjadi pengerutan jaringan otak (tuber sklerosis).
• Mungkin karena kelainan metabolisme seperti pada penyakit Addison, (karena infeksi Tuberkulosa, dimana terjadi bertambahnya pigment tubuh dan kemunduran mental).
• Mungkin karena kelainan chromosom seperti pada syndrome chromosoma X yang fragil seperti diberitakan belakangan ini tinggi insidennya di Gunung kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan sindroma chromosom XYY.
• Mungkin faktor lain.
Pemeriksaan CT scanning dan pneumo encephalogram pada anak autisme, tampak:
• Ventrikel lateral otak tidak normal, terutama daerah temporal.
• Juga terlihat pelebaran ventrikel lateral otak.
Pada pemeriksaan histopatologi:
• Pembentukan sel sel di daerah hipocampus terlihat tidak normal dan amygdala di kedua sisi otak.
Pada pemeriksaan EEG:
• Kelainan tidak khas, meskipun kadangkadang tampak discharge temporal.
Secara laboratorium:
• Diduga ada kaitannya dengan banyaknya pembuangan zat phenil keton melalui air seni (phenil ketonuria).
• Kurang mampu berimajinasi (daya khayal).

Daftar Pustaka
Autisme: suatu gangguan jiwa pada anak-anak Oleh Faisal Yatim, DTM&H, MPH


Kamis, 20 Januari 2011

Hasil Karya Tangan SLB-C Abdi Kasih Medan

KETERAMPILAN PRODUKTIF SLBC- ABDI KASIH  
Oleh : Abas Haryanto

Pendidikan keterampilan merupakan tindak lanjut dari jenjang-jenjang pendidikan tingkat standart dan lanjutan. Pada pendidikan keterampilan ini semua anak yang telah memenuhi syarat akan mengikuti pendidikan keterampilan, diharapkan nantinya mereka mampu berproduksi, sehingga mereka dapat menjadi karyawan di bidang keterampilan di Yayasan Abdi Kasih.
Khusus di bidang memasak dan kebersihan, apabila anak sudah trampil maka mereka dapat bekerja di rumah tangganya sendiri dan mereka juga bisa bekerja sebagai karyawan Abdi Kasih, yaitu sebagai tukang masak dan petugas kebersihan.
Maksud dan tujuan keterampilan bagi anak tuna grahita yang di bisa di Yayasan Abdi Kasih adalah :
-     Megembangkan bakat anak sebagai bekal hidup untuk keluarga dan masyarakat
-   Memberi latihan dasar sebagai usaha atau menghasilkan karya produktif dan    berguna  bagi kesejahteraan keluarga dan masyarakat
-     Sebagai wadah penyaluran kegiatan dan melatih kkreatifitas bekerja pada anak

Sasaran yang ingin dicapai bagi anak tuna grahita di bidanag keterampilan adalah :
-     Dapat memiliki keterampilan sebagai bekal hidupnya nanti
-     Tidak menjadi beban orang tua maupun orang lain
-   Agar anak dapat mengambil kehidupan dalam masyarakat dan mempunyai mata pencaharinan yang tetap.

Bagi anak-anak yang sudah terampil bekerja maka Yayasan Abdi Kasih akan memberikan insentif agar mereka menjadi lebih bersemangat dan merasa dihargai dan yang paling penting lagi bahwa mereka mempunyai pandangan dan mereka bisa menikmati hasil jerih payahnya.

      Pendidikan Keterampilan yang diberikan pada anak tuna grahita terdiri dari beberapa jenis diantaranya :
1.      Keterampilan pembuatan lilin celup dan lilin cetak




















2.   Keterampilan bertenun dan pel     tangkai
3.   Keterampilan memasak
4.   Keterampilan cleaning service 
5.   Keterampilan pertukangan (mengecat bangku, pintu, jendela dan dingding) 
6.   Keterampilan bercocok tanam.
7.   Keterampilan Peternakan ( Ayam, Bebek, Angsa dan Ikan )

Selasa, 23 November 2010

Kunjungan dari anak-anak Singapore International School

Hari ini, tepatnya tanggal 23 November 2010 sekolah kami kedatangan teman-teman dari Singapore International School, mereka mau berbagi dengan anak-anak berkebutuhan khusus ( SLB-C Abdi Kasih ).
Berbagai permainan mereka tampilkan dan tak lupa mengajak anak-anak kami untuk ikut serta, gelak tawapun meledak melihat aksi-aksi mereka, memang anak-anak dari Singapore International School jauh lebih unggul dan mahir seperti memakai Hulahop, anak-anak dari Abdi Kasih akhirnya di bantu guru / Miss dituntun saja ( hehehe..........). Namun makna dari kegiatan itu adalah: 

Bagi anak-anak Singapore International School
  • Berbagi dengan teman-teman anak-anak berkebutuhan khusus
  • Mengenal Apa dan Bagaimana Anak Berkebutuhan Khusus itu
  • Meningkatkan keberanian mereka menghadapi berbagai jebis sifat/tingkah laku orang-orang yang ada disekitarnya.
  • Mensyukuri kehidupan mereka yang sekarang ini.
  • Menambah pengetahuan mereka meskipun cacat ( Tuna Grahita ), namun anak-anak di Abdi Kasih itu dapat menghasilkan sebuah Karya.
Bagi anak-anak Abdi Kasih :
  • Senang mendapat kunjungan dari teman-teman SIS
  • Merasa diperhatikan
  • Mendapat hiburan dan permainan bersama
  • Merasakan adanya kebersamaan yang hangat dari temn-teman SIS
  • Mendapat bingkisan.
Terusterang kendala bahasa memang ada, dimana Miss ( teacher ) dan anak -anak dari SIS semuanya menggunakan Bahasa Inggris, meskipun demikian acaranya perjalan dengan baik, semua merasakan kegembiraan.
Buat anak-anak dari SIS ( Singapore International School ), Miss dan Orang tua yang turut hadir hari ini kami mengucapkan Banyak terima kasih atas perhatian dan waktu yang telah mau berbagi dengan kami.

Murid-Murid dari Singapore International School membacakan cerita



















Senin, 22 November 2010

SELINTASPERJALANAN YAYASAN ABDI kASIH

     Tergugah oleh kenyataan betapa kurangnya perhatian dan sarana pendidikan maupun guru-guru Profesional dan data statistic menunjukkan bahwa di Propinsi Sumatera Utara 1.171.667 anak usia sekolah yang diperkirakan 6% dari jumlah tersebut yaitu ada sebanyak 70.288 orang memerlukan Pendidikan Luar Biasa diantaranya 9.687 Tuna Grahita, sedangkan di Sumatera Utara pada waktu itu hanya ada 2 sekolah luar biasa, sehingga  sekelompok sosiawan dan pendidik sepakat mendirikan  sebuah Yayasan yang khusus untuk menampung dan mendidik anak-anak tuna grahita dan autis, yang dinamakan Yayasan Abdi Kasih.
     Yayasan Abdi Kasih adalah Yayasan Sosial Non Profit yang disahkan oleh Notaris Panusunan Batu Bara pada tgl 08 Januari 1976.
     Pada tahun pertama, Yayasan kemudian membuka Taman Kanak-Kanak tuna grahita yang berkembang menjadi Sekolah Luar Biasa Cacat Mental (SLB-C), Lima belas siswa calon guru Akademi  Pendidikan Guru Luar Biasa (APGLB) lulus dengan sertifikat SPGLB Bandung. Kini mereka mengajar di berbagai sekolah-sekolah luar biasa di Sumatera Utara.
Dan pada Tahun 1986 Yayasan membeli sebidang tanah di Martubung yang letaknya 17 km dari Kota Medan dan mendirikan  Sekolah SLB-C yang terdiri dari 8 (delapan) buah ruangan kelas, 8 (delapan) buah ruang tamu. tata usaha, perpustakaan, kesehatan, workshop, ruang terapi dan satu aula dan ruangan guru-guru dan juga melengkapinya dengan Asrama di tingkat atas.

     YAYASAN Abdi Kasih adalah Yayasan Sosial Non-Profit, yang bertujuan untuk Memajukan pendidikan dan Melatih ketrampilan anak-anak tuna grahita. Dengan Pengabdiannya kepada masyarakat yaitu dalam Hal memberi pertolongan dan meringankan beban para anak tuna grahita (cacat mental) tanpa membedakan keturunan, golongan, suku dan agama,  
Adapun yang dimaksud dengan memberi Pertolongan tersebut adalah berupa :  mengasuh, mendidik dan membina putera-puteri Indonesia yang menderita cacat mental (tuna grahita) dari semua kalangan masyarakat agar dapat diterima di masyarakat.

TUJUAN :

1.     Mendidik dan melatih anak-anak tuna grahita semaximal mungkin sehingga dapat diterima oleh lingkungan tempat tinggal dan masyarakat pada umumnya.
2.     Mengembangkan secara maximal kemandirian anak-anak  tuna grahita secara individual sesuai bakat dan kemampuannya.
3.     Membantu Pemerintah untuk memajukan dan memperkembangkan pendidikan anak-anak berkemampuan khusus terutama tuna grahita melalui pendidikan luar biasa dan latihan-latihan  ketrampilan sesuai bakat dan kemampuannya.
4.     Meningkatkan kwalitas hidup anak-anak tuna grahita dengan menciptakan suasana belajar dan bekerja yang positif dan harmonis di dalam Kampus Abdi Kasih

Secara garis besar  anak-anak tuna grahita dapat kita kelompokkan dalam tiga golongan :
1.     Anak-anak yang mengalami kesulitan dalam bidang belajar, ada batas pada intelligensinya, golongan ini disebut Debil, dengan IQ 90, 85, 80 (mampu didik)
2.     Anak-anak yang menunjukkan kelainan dalam segala bidang kehidupan. Dalam bidang sosial mereka menghadapi lingkungan yang lain dari anak-anak biasa, karena lingkungan kurang mengerti mereka, kehidupan emosional berlainan, motorik terganggu, intelligensi anak-anak agar rendah. Pada anak-anak ini terdapat banyak kemungkinan yang dapat dikembangkan, anak-anak ini dididik secara khusus, golongan ini disebut Imbesil dengan IQ 80, 75, 70, 65, 60 (mampu latih)
3.     Anak-anak yang perkembangannya demikian terlambat dan terganggu sehingga mereka hampir tidak dapat dididik  lagi dan membutuhkan perawatan, golongan ini disebut Idiot dengan IQ 40, 35, 30 (dirawat)

Jenjang Pendidikan anak tuna grahita terdiri dari tiga periode :
1.     Tingkat persiapan (2 tahun atau lebih)
2.     Tingkat sekolah dasar (6 tahun – 8 tahun)
3.     Tingkat kejuruan (4 tahun atau lebih)

Kegiatan-kegiatan dan program tahunan

1.     Sekolah Dasar SLB-C
Sekolah menerima anak-anak tuna grahita usia sekolah untuk belajar pendidikan Dasar dengan sisitem CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang dipakai oleh Pemerintah di Indonesia. Kurikulum ini memungkinkan siswa belajar berpartisipasi aktif di dalam kelas. Program aktualisasi dilakukan satu minggu dalam satu bulan.

2.     Panti Harian (Day Care)
Panti Harian adalah tempat latihan untuk anak-anak yang tidak dapat mengikuti kurikulum sekolah. Program latihan-latihan terdiri dari menyesuaikan kebutuhan-kebutuhan primer anak antara lain latihan berkomunikasi dan bina diri sesuai kemampuan anak.

3.     Sanggar Ketrampilan (Workshop)
       Di tempat ini murid-murid dilatih beberapa macam ketrampilan antara lain : membuat lilin, mainan, tenun, beternak,           berkebun, berolahraga dan pekerjaan rumah tangga memasak, mencuci, menjahit, berbelanja dan lain-lain. Hasil-hasil produksi dijual di bazar-bazar untuk keperluan sanggar.

4.     Asrama
Tempat tinggal untuk anak-anak yang disesuaikan seperti hidup dalam keluarga sehingga anak merasakan suasana keluarga. Mereka tingal bersama kepala asrama dan pendidik-pendidik di dalam kompleks yang mengasuh mereka. Selain anak-anak menerima pendidikan di sekolah mereka juga menerima latihan-latihan kerumahtanggaan.

Pendidikan dikembangkan untuk membuka kemungkinan pendidikan seumur hidup.

Jenjang Pendidikan Tuna Grahita Abdi Kasih mencakup :
1.     Sekolah Luar Biasa D1 s/d D8
2.     Day Centre (Panti Harian)
3.     Workshop (Sanggar Ketrampilan)
4.     Asrama
5.     Gedung Olahraga

Abdi Kasih  mempunyai fasilitas antara lain :
·   Sekolah SLB-C yang dapat menampung ± 100 orang anak,
·   Sheltered Workshop (Sanggar Ketrampilan) yang memberi pendidikan dan latihan-latihan Membuat lilin, Menenun kain pel,  Bercocok Tanam, dan Ketrampilan kerumahtanggaan,
·   Asrama yang  dapat menampung ± 60 orang anak,
·   Snoozle room atau ruang terapi untuk anak-anak autis, hiperaktif dan pasif.
·   Gedung Olahraga

Selama 33 tahun, sejak berdirinya Yayasan Abdi Kasih, anak-anak tuna grahita yang ditampung dan bersekolah di Abdi Kasih, kebanyakan berasal dari Keluarga yang Ekonominya rendah sehingga dalam menjalankan operasional Asrama dan Sekolah, Yayasan mendapat Bantuan dari sumbangan para orang tua, sponsor-sponsor, sumbangan masyarakat, sumbangan sosial Pemerintah dan Non-Pemerintah dari dalam maupun luar negeri dan usaha-usaha pencarian dana yang dikoordinator oleh Yayasan Abdi Kasih.
Wajah-wajah Guru-Guru Berhati Mulia


Selain ini Yayasan Abdi Kasih merupakan ajang pelatihan, penelitian dan persiapan skripsi bagi Mahasiswa Jurusan Ilmu Psikologi S2 Universitas Sumatera Utara (USU). Kerjasama ini kami lakukan demi kemajuan-kemajuan Ilmu Psikologi dan anak-anak penyandang Tuna Grahita dan Autis.





Sabtu, 13 November 2010

STRATEGI PENANGANAN ANAK AUTIS

          Siapakah anak istimewa itu ?, ada uang menyebutkan “cacat” luar biasa, istimewa dan lain-lain.
Autisme berasal dari kata “AUTOS” artinya segala sesuatu mengarah pada dirinya sendiri.
Kriteria gangguan autisme :
          A.Gangguan Interaksi Sosial
          B.Gangguan dalam komunikasi
          C.Gangguan penyimpangan perilaku

Catatan :
Autisme ditegakkan di usia 2 tahun , indicator pemeriksaan dengan GARS (Standar skala Autisme).

Efek sebuah predikat “Autisme” bagi keluarga :
¨      Tahap denial (menolak menerima kenyataan), saling menyalahkan pasangan
¨      Tahap Anger (marah) : menolak mengasuh, menyalahkan dokter
¨      Tahap Bargaining (menawar), orang tua kadang berpikir keadaan akan membaik seiring waktu.
¨      Tahap Depresi, membayangkan masa depan anak, putus asa
¨      Tahap Acceptance (pasrah dan menerima kenyataan ), mampu menerima secara emosional dan spiritual

Catatan : 
tahap ini mungkin tidak akan berakhir terngantung pada kesiapan orang tua

Tingkah Laku bermasalah :
§  Tingkah laku berlebihan, tantrum/agresifitas, menangis, berlari-lari, melompat-lompat,              beragumentasi,dll
§   Tingkah laku deficit . pasif, kurang perhatian, motivasu rendah, menyendiri, kurang mampu bersosialisasi, dll.
§   Tingkah laku stinulasi diri : flaying, rocking, tepuk tangan, mengerakkan jari-jari tangan, mengulang-ulang kalimat/lagu/film.dll

Menangani tingkah laku bermasalah
Untuk dapat mengurangi dan menghilangkan tingkah laku bermasalah, kita tidak hanya perlu mengetahui cara-cara modifikasi tin gkah laku tetapi juga mengenal anak dengan baik.

A.     Kenali karakteristik Anak
B.     Analisis penyebab tingkah laku
C.    Ajarkan tingkah laku pengganti
D.    Konsisten dan sabar


PENGALAMAN PENANGANAN ANAK AUTIS

          Setelah kami mempelajari berbagai macam karakter dan perilaku anak, disini kami mendidik sepuluh orang anak autis dengan berbagai macam tingkah lakunya.
Adapun perilaku yang sangat menonjol yaitu : marah, suka mencubit, senanag membuang benda-benda.   Latihan demi latihan yang kami berikan pada anak dapat membawa perubahan pada tingkah laku anak meskipun sifat dan tingkah lakunya masih juga terulang adapun perkembangan lain yang sangat menonjol pada anak seperti :
1.   Jefri pertama kali datang hanya bisa mengatakan kata kucing dan kupu-kupu, namun sekarang interaksi sosial anak dengan guru dan teman sudah bagus, anak sudah dapat berkomunikasi dengan orang lain dan orangnya pun mengerti, dan pengetahuannya sudah berkembang.
2.      Riko awal dia masuk hanya bisa menangis dan meneerit, tidak mau duduk di kursi, tidak mau belajar dikelas,dan sekarang anak sudah ada perubahan seperti duduk di kelas dengan belajar, berkurang menangsinya pada waktu belajar.

Sebenarnya masih banyak perkembangan yang ada pada anak kami namun masih perlu latihan secara intensif dan teratur.

Adapun kegiatan yang kami tangani misalnya :

1.    Berenang
Rata-rata anak autis sangat menyenangi air, seperti melihat, meraba dan merasakan langsung ke badan, mencelupkan tangan ke dalam air sa,bil mengatakan “ air,,,,,air....”, ketertarikan mereka pada air sangat unik sehingga untuk lebih menyempurnakan ketertarikan mereka pada air, kami guru autis membuat program berenag.
Adapun tujuan program berenag ini :
-          Melatih konsentrasi anak
-          Melatih sensorik / gerak tubuh
-          Melatih anak untuk bersosialisasi
-          Menunjukkan ekspresi seperti , bersuara

      Setelah program ini berjalan, dampaknya pada anak cukup baik dan kami masih tetap melanjutkan program ini.  

2.   Terapi Snozelen
Terapi snozelen merupakan aktivitas yang dirancang untuk mempengaruhi system saraf pusat melalui pemberian rangsangan yang cukup pada system sensorik primer anak, septerti penglihatan, pendengaran, peraba dan pembau.
               

          Terapi ini kami adakan di sebuah ruangan yang kami sebut ruangan snozelen, yang didalamnya terdapat berbagai macam alat-alat  bermain yang mendukung.
Di dalam ruangan ini anak-anak bebas bermain sepua-puasnya menurut kemauan dirinya sendiri tanpa ada peraturan yang mengikat  gerak mereka.    
Jika anak dihadapkan terlalu banyak aturan-aturan, kemungkinan anak tumbuh menjadi individu yang penuh keraguan, pasif, tidak memiliki inisiatif dan akhirnya anak selalu menunggu perintah baru bertindak.

         Dalam bermain juga dapat mencapai perkembangan fisik, melatih kekuatan, kesinambungan dan motorik anak. Melihat sangat banyak manfaat dari terapi snozeleni ni pada anak-anak autis, maka Yayasan Abdi Kasih  terus berusaha mencari donator-donatur yang mau menyumbang sarana dan prasarana untuk Terapi Snozelen, awalnya ruangan snozelen ini didapat dari slah satu pihak donator , yaitu : Pak Piere Relawan dari Belanda.



Program Berenang di Kolam Renang Deli 















                  
               
 









Kamis, 11 November 2010

UNTUK KITA RENUNGKAN


 “ JANGAN  JAUHI   KAMI ”


M
ungkin, sepenggal kalimat itulah yang terlontar dari mulut seorang anak yang memiliki  Keterbatasan mental (Tuna Grahita), yang ingin mereka sampaikan kepada masyarakat dan dunia yang masih menganggpab mereka adalah sebuah “AIB” atau  beban bagi orang atau keluarga  yang memiliki anggota keluarga sebagai Tuna Grahita. Mereka  juga memiliki kemampuan seperti kawan-kawan mereka yang normal, mereka juga mempunyai bakat,keterampilan dan bisa berprestasi. Bahkan dalam bidang-bidang tertentu mereka  tidak kalah.


“ KELUH  KESAH SEORANG IBU”

Pernah seorang ibu berkeluh kesah kepada saya (penulis), mengenai anaknya yang Tuna Grahita, dengan air mata yang berlinang-linang, bagaimana jika suatu hari si ibu tersebut meninggal, siapa yang akan mengurus anaknya itu, sebab semua saudaranya seolah-olah tidak mau tahu atau malu mempunyai adik yang memiliki keterbatasan mental.
Ada juga orangtua yang merasa malu akan kehadiran anak tuna grahita di kehidupan mereka.
Bapak/Ibu jangan bersedih, karena anak tuna grahita mempunyai martabat yang sama sebagai seorang manusia”.


“Jangan Jauhi Mereka "

Mari kita bersama-sama merangkul mereka, menggandeng jari-jari kecil mereka mengenal dunia lebih luas, karena ditiap tapak kaki mereka tersimpan suatu keajaiban yang sangat Besar dan Dahsyat dari Tuhan.

                                   

" JANGAN JAUHI KAMI "

 “ JANGAN  JAUHI   KAMI ”


M
ungkin, sepenggal kalimat itulah yang terlontar dari mulut seorang anak yang memiliki  Keterbatasan mental (Tuna Grahita), yang ingin mereka sampaikan kepada masyarakat dan dunia yang masih menganggpab mereka adalah sebuah “AIB” atau  beban bagi orang atau keluarga  yang memiliki anggota keluarga sebagai Tuna Grahita. Mereka  juga memiliki kemampuan seperti kawan-kawan mereka yang normal, mereka juga mempunyai bakat,keterampilan dan bisa berprestasi. Bahkan dalam bidang-bidang tertentu mereka  tidak kalah.

“ KELUH  KESAH SEORANG IBU”

Pernah seorang ibu berkeluh kesah kepada saya (penulis), mengenai anaknya yang Tuna Grahita, dengan air mata yang berlinang-linang, bagaimana jika suatu hari si ibu tersebut meninggal, siapa yang akan mengurus anaknya itu, sebab semua saudaranya seolah-olah tidak mau tahu atau malu mempunyai adik yang memiliki keterbatasan mental.
Ada juga orangtua yang merasa malu akan kehadiran anak tuna grahita di kehidupan mereka.
Bapak/Ibu jangan bersedih, karena anak tuna grahita mempunyai martabat yang sama sebagai seorang manusia”.


“Jangan Jauhi Mereka “

Mari kita bersama-sama merangkul mereka, menggandeng jari-jari kecil mereka mengenal dunia lebih luas, karena ditiap tapak kaki mereka tersimpan suatu keajaiban yang sangat Besar dan Dahsyat dari Tuhan.

                                   






by. DAME  ROULI N.

Rabu, 03 November 2010

SYAIR ANAK CACAT

     KEPADA MASYARAKAT YANG TERKASIH

SAYA INGIN MEMPERKENALKAN DIRI SAYA KEPADA SEMUA

SAYA BUKAN SEPERTI ABANG SAYA
SAYA BUKAN SEPERTI KAKAK SAYA
SAYA BUKAN SEPERTI KAWAN-KAWAN MEREKA
SIAPAKAH SAYA INI?


KADANG-KADANG MEREKA MEMUKUL SAYA
KADANG-KADANG MEREKA MENGEJEK SAYA
KADANG-KADANG MEREKA MENCIUM SAYA
MEREKA MENAMAKAN SAYA ANAK CACAT MENTAL

SAYA SANGAT GEMAR MELUKIS
SAYA SANGAT SENANG MUSIK
SAYA JUGA SUKA MENARI DAN BERGOYANG RIA
TETAPI BETAPA SEDIHNYA HATIKU
MELIHAT IBU BERLINANG AIR MATA KARNA KU


MAKA DARI ITU SAYA MOHON KEPADA ANDA SEMUA
BANTULAH SAYA, BIMBINGLAH SAYA DAN BRILAH SAYA
KESEMPATAN YANG SAMA DALAM DUNIA MEREKA
KARNA SAYA BUKAN ANAK YANG TAK DAPAT DIHARAPKAN
DAN MENAMAKAN SAYA ANAK TUNA GRAHITA